Sepasang sendal jepit tersisa dari selesainya jamaah sholat tarawih. teronggok di sudut bawah pintu serambi masjid Al Ikhlas, masjid terbesar di daerah kami. sejenak kulongokkan kepala untuk melihat kedalam, mencari tahu siapakah jamaah yang masih di dalam. semua sudah kosong dan tidak menampakkan adanya kehidupan di dalam sana. sunyi menyambut tanya dalam hatiku malam itu.
Jamaah Subuh selesai, namun sandal jepit itu masih setia disana. seolah tidak ada pemilik yang mencari propertinya. meski nampak lusuh, namun sandal itu masih terawat. tidak ada sobek ataupun cacat yang menjadikan alasan dia diterlantarkan. harus aku laporkan kepada Pak Mahmud, beliau adalah takmir yang biasanya mengetahui seluk beluk masjid dan lingkungan sekitarnya. kuputuskan menjelang Dzuhur untuk menemui beliau.
Menjelang Dzuhur kurang tiga puluh menit. sandal itu raib, entah siapa yang memindahkannya. namun berganti dengan sepasang sandal jepit yang tidak biasa. aneh karena warna kiri dan kanan sandal itu berbeda, merah dan hijau. urung kusampaikan kejadian ini pada takmir, hingga kutemukan siapa gerangan pemilik sandal beda warna tersebut.
Dzuhurku tidak khusuk, terpikir masalah yang terjadi siang ini. hingga rakaat terakhir aku paksakan tidak menanyakan pada hatiku, siapakah pemilik sandal beda warna. selesai salam dan dzikir, aku keluar dan duduk di serambi dekat bak wudhu. kuamati setiap orang yang keluar masjid dan mengambil sandalnya masing-masing. kini tinggal dua pasang sandal tersisa, sandal aneh dan sepasang sandal dengan inisial T dan R di kedua sisinya. kulongokkan lagi kepalaku melalui bilik jendela. didalam masih ada dua orang, sesuai dengan jumlah sandal yang tersisa. dua sosok yang aku kenal, Pak Supri dan Pak Dawir, ketua RT kami. sandal dengan inisial kemungkinan besar milik Pak RT, berarti sandal satunya milik Pak Supri. apa mungkin? mengingat Pak Supri merupakan orang kaya di kampung kami. pikiranku tidak bisa mengasosiasikannya dengan sandal jepit, apalagi beda warna.
Keduanya berdiri, inilah saat pertanyaan di benakku terjawab. tepat saat keduanya mengambil sandal, tepat pula dugaanku. Pak Dawir mengenakan sandal inisial RT, dan Pak Supri mengambil sandal beda warna dan memasukkannya ke dalam sekantong tas plastik. Spontan aku bertanya, "Pak Supri, apakah sandal jepit itu milik pak Supri?". sambil tersenyum dia menjawab, "Tadi pagi belum, tapi siang ini sandal ini milik saya.". "Apa maksudnya?",cecarku. Beliau memulai kisahnya, sewaktu berangkat ke masjid untuk sembahyang Dzuhur, beliau bertemu dengan seorang di jalan. dengan alasan musafir dan perjalanannya masih jauh, orang itu meminta kepada Pak Supri untuk menukar sandal jepit miliknya dengan kepunyaan Pak Supri. karena kasihan Pak Supri menerima tawaran tersebut. bahkan mengajak sang musafir untuk istirahat di serambi masjid barang sejenak. namun karena alasan waktu, orang tersebut langsung melanjutkkan perjalanannya. demikian kronologi sendal jepit beda warna itu berpindah tangan. Aku terdiam sejenak membayangkan kejadian itu. "Nak Doni mau pakai sandal ini? Nanti saya beli lagi di warung sambil pulang" Pak Supri membuyarkan lamunanku. "Ah, tidak Pak, terima kasih. Sandal saya masih bisa dipakai", jawabku. "Ya sudah, kalo gitu biar sandal ini Bapak belikan karet yang baru yang sama warnanya, biar masih bisa dipakai di rumah.". "Mari Nak Doni, kami pulang dulu", lanjut Pak Dawir. "iya Pak, hati-hati di jalan", jawabku. "Assalamualaikum" salam dari Pak Dawir dan Pak Supri. "Waalaikum salam".
Lega hatiku karena sandal beda warna sudah terjelaskan, meski masih tersisa tanya, sandal siapa yang tertinggal malam kemarin?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar