Satrio Amandiri

tentang mimpi dan kebahagiaan dalam goresan keyboard

Sabtu, 31 Desember 2011

Suatu Sore di Senayan

Garuda di Dadaku
Garuda Kebanggaanku
Semua semangat menari
Semua lantang bernyanyi
Mengusung merah putih di suatu sore
Di pelataran halaman Senayan

Inilah tempat suci kami
semua semangat hidup tercurah disini
melawan sumpeknya Ibukota tercinta
Tak ada lagi perbedaan dan batasan
karena di mata Garuda semuanya sama
jangan buramkan dengan kepentingan

Menang atau kalah, sama bagiku
Garuda selalu didadaku
tapi tidak bagi mereka, pendukung kepentingan
datang membawa sensasi dan sorotan
mereka tidak berteriak, mereka tidak bergerak
karena bagi kami mereka adalah babi

ini bukan dunia kalian
enyahlah dari kuil suci kami
stadion tempat kami gadaikan hati
jangan kotori tanah Senayan
dengan warna kepentingan kalian
karena disini, hanya merah putih yang bernyanyi

Rabu, 28 Desember 2011

Dua Ratus Lima Puluh Ribu

penumpang ketiga yang aku antar
jarak tak jauh seperti dua yang lalu
kukayuh penuh harap dan beban
bayangan gelisah penghuni rumah

besok pelunasan SPP sekolah
atau tidak ada nama dalam daftar
pagi tadi tidak ada yang diolah
diniatkan puasa karena terpaksa

dua ratus lima puluh ribu kukayuh
demi selembar kartu ujian
Dian kecil tidaklah bebal
hanya dana tiada berpunya

dua ratus lima puluh ribu kukejar
entah sanggup mengisi saku
hutang tetangga sudah menumpuk
takkan ada yang bisa dipinjam

gerimis menitik seolah tahu
gelisah rendah mengaduk hati
maafkanlah bapakmu anakku
tak mampu biayai ujian akhirmu

Tuhan,
usaikanlah saja hidupku
dalam celaka berbalut aspal
kutukar hidup dengan santunan
hingga anakku bisa ujian

dua ratus lima puluh ribu saja..

Selasa, 27 Desember 2011

Hanya Masalah Waktu

Dunia itu bulat
itu hanya masalah waktu
karena dunia yang saat ini bulat
dulu adalah datar dan berujung

Dunia mengelilingi Surya
itu hanya msalah waktu
karena dahulu kala
Surya berputar diatas Dunia

Uang menguasai Dunia
itu hanya masalah waktu
saat semua benda bisa ditukar
uang tidak bisa berbicara

Semua hanya masalah waktu
kita muda namun pemikiran dewasa
atau tua dengan jiwa yang muda
semua hanya masalah waktu

Dan pahamilah
semua yang kita miliki saat ini
adalah milik Dunia seutuhnya
dan suatu saat, Dunia akan memintanya kembali
Semua hanya masalah waktu

Tikus Kota dan Kucing Desa

"Tak perlu ragu, ikutilah semua langkahku"
sambutan hangat tikus kota pada sahabatnya
tikus desa yang mencoba peruntungan di kota
dengan selaksa mimpi dan harap di dada
gantungkan hidup dari tindakan nista

"Tapi.. bagaimana dengan para kucing
aku takut tertangkap dan mati tercabik cakar mereka"
gemetar bayangan tikus desa pada pemangsa
"tak perlu ragu dan bimbang saudaraku
semua kucing, pun harimau aku kenal baik
lagipula mereka adalah bagian dari sistem kerja kita"
mantap tikus kota, memupus gelap di mata

satu malam, satu minggu, bulan menjadi warsa
semua barang pernah mereka curi
semua jajanan pernah mereka cicipi
semua tempat sudah mereka jilati
berdua dalam keceriaan, tanpa noda duka

saat mereka melakukan malam itu, sungguh naas
sasaran rendang dapur restoran padang
bukan kucing yang biasa mereka jumpa
kucing yang biasa mereka sapa dan atur helai kumisnya
kucing desa yang sore ini sampai ke kota
tak tahu aturan dan negosiasi harga
mencabik mereka memburatkan dada
mengonggokkan mereka di sudut gelap kota
tanpa nama tanpa akhir bahagia

Rabu, 21 Desember 2011

Ibu, You're my everything

Hari ibu
hari ini atau kemarin
seharusnya tak menjadi masalah
karena hormat padamu tidak berubah

Hari ini
hari pengucapan terima kasih
tulus ikhlas memberi cinta
meski tak hanya hari ini saja

Hari ibu
terima kasih ibu
karena kami takkan mampu
membalas semua yang telah berlalu

Hari ini
aku berjanji pada diriku
akan kurawat dengan baik cucumu
sebagai ungkapan terima kasih padamu

Selasa, 20 Desember 2011

Sandal Jepit

Sepasang sendal jepit tersisa dari selesainya jamaah sholat tarawih. teronggok di sudut bawah pintu serambi masjid Al Ikhlas, masjid terbesar di daerah kami. sejenak kulongokkan kepala untuk melihat kedalam, mencari tahu siapakah jamaah yang masih di dalam. semua sudah kosong dan tidak menampakkan adanya kehidupan di dalam sana. sunyi menyambut tanya dalam hatiku malam itu.

Jamaah Subuh selesai, namun sandal jepit itu masih setia disana. seolah tidak ada pemilik yang mencari propertinya. meski nampak lusuh, namun sandal itu masih terawat. tidak ada sobek ataupun cacat yang menjadikan alasan dia diterlantarkan. harus aku laporkan kepada Pak Mahmud, beliau adalah takmir yang biasanya mengetahui seluk beluk masjid dan lingkungan sekitarnya. kuputuskan menjelang Dzuhur untuk menemui beliau.

Menjelang Dzuhur kurang tiga puluh menit. sandal itu raib, entah siapa yang memindahkannya. namun berganti dengan sepasang sandal jepit yang tidak biasa. aneh karena warna kiri dan kanan sandal itu berbeda, merah dan hijau. urung kusampaikan kejadian ini pada takmir, hingga kutemukan siapa gerangan pemilik sandal beda warna tersebut.

Dzuhurku tidak khusuk, terpikir masalah yang terjadi siang ini. hingga rakaat terakhir aku paksakan tidak menanyakan pada hatiku, siapakah pemilik sandal beda warna. selesai salam dan dzikir, aku keluar dan duduk di serambi dekat bak wudhu. kuamati setiap orang yang keluar masjid dan mengambil sandalnya masing-masing. kini tinggal dua pasang sandal tersisa, sandal aneh dan sepasang sandal dengan inisial T dan R di kedua sisinya. kulongokkan lagi kepalaku melalui bilik jendela. didalam masih ada dua orang, sesuai dengan jumlah sandal yang tersisa. dua sosok yang aku kenal, Pak Supri dan Pak Dawir, ketua RT kami. sandal dengan inisial kemungkinan besar milik Pak RT, berarti sandal satunya milik Pak Supri. apa mungkin? mengingat Pak Supri merupakan orang kaya di kampung kami. pikiranku tidak bisa mengasosiasikannya dengan sandal jepit, apalagi beda warna.

Keduanya berdiri, inilah saat pertanyaan di benakku terjawab. tepat saat keduanya mengambil sandal, tepat pula dugaanku. Pak Dawir mengenakan sandal inisial RT, dan Pak Supri mengambil sandal beda warna dan memasukkannya ke dalam sekantong tas plastik. Spontan aku bertanya, "Pak Supri, apakah sandal jepit itu milik pak Supri?". sambil tersenyum dia menjawab, "Tadi pagi belum, tapi siang ini sandal ini milik saya.". "Apa maksudnya?",cecarku. Beliau memulai kisahnya, sewaktu berangkat ke masjid untuk sembahyang Dzuhur, beliau bertemu dengan seorang di jalan. dengan alasan musafir dan perjalanannya masih jauh, orang itu meminta kepada Pak Supri untuk menukar sandal jepit miliknya dengan kepunyaan Pak Supri. karena kasihan Pak Supri menerima tawaran tersebut. bahkan mengajak sang musafir untuk istirahat di serambi masjid barang sejenak. namun karena alasan waktu, orang tersebut langsung melanjutkkan perjalanannya. demikian kronologi sendal jepit beda warna itu berpindah tangan. Aku terdiam sejenak membayangkan kejadian itu. "Nak Doni mau pakai sandal ini? Nanti saya beli lagi di warung sambil pulang" Pak Supri membuyarkan lamunanku. "Ah, tidak Pak, terima kasih. Sandal saya masih bisa dipakai", jawabku. "Ya sudah, kalo gitu biar sandal ini Bapak belikan karet yang baru yang sama warnanya, biar masih bisa dipakai di rumah.". "Mari Nak Doni, kami pulang dulu", lanjut Pak Dawir. "iya Pak, hati-hati di jalan", jawabku. "Assalamualaikum" salam dari Pak Dawir dan Pak Supri. "Waalaikum salam".

Lega hatiku karena sandal beda warna sudah terjelaskan, meski masih tersisa tanya, sandal siapa yang tertinggal malam kemarin?

Kegagalan

Gagal? semua pernah mengalami
Seorang tidak pernah gagal, jawabmu
tanyalah padanya
berapa sering dia mencoba
ilmu baru
ketrampilan baru
suasana baru

Jatuh? sejak kecil kita terbiasa jatuh
tanpa jatuh, tak ada langkah
kata orang dahulu
perjalanan ratusan mil
diawali dengan satu langkah
dan satu langkah
diawali dengan jatuh yang berulang

Tidak masalah apa masalahmu
tidak peduli apa pedulimu
semua pernah jatuh
semua pernah gagal

Tapi bukan berapa sering itu terjadi
esensi yang diajarkan hidup
adalah bangkit jawaban yang pasti
pendekatan baru
metode baru
semangat baru

Senin, 19 Desember 2011

Primata Indonesia

Sang betina berlari kencang
menembus dingin pekat malam
sesekali terdengar letusan dan aroma mesiu
apakah kamu bisa rasakan kekhawatirannya?
saudaranya telah mati menjelang siang tadi
sementara dua anaknya menari sendu dalam benak
di dalam perangkap kayu yang biadab
tak pernah memberi ampun pada korbannya

bukan
ini bukan dunia yang diceritakan padanya
dari moyang orang tuanya dahulu
hidup berdampingan menjaga alam
dengan makhluk sempurna sebagai imam

bukan
ini bukanlah mimpi
karena jika benar aku akan bangun lebih pagi
ini adalah ketamakan
meski bangsa kami tidak tahu apa artinya
tanah kami hutan kami
bahkan aroma rumput kami
semuanya terampas dan kami terhempas

kuharap semuanya akan berakhir
walau mungkin aku saksi yang terakhir
menjadi primata yang tersisa
menikmati indahnya belantara Indonesia

Cengkeram dingin malam

Pagi ini semua berubah
saat kulalui sisi jalan yang selama ini kuhindari
padat, macet dan bau sampah
asosiasi buruk dipikiranku
adalah tempat itu

Pagi ini semua berubah
saat kusadari ada tatapan mata padaku
penuh harap dan gelisah
mengusik logika dipikiranku
siapakah pemilik mata itu

Pagi berikutnya semua berubah
saat tak lagi kutemui binar mata
disudut dan ditepi jalan
munculkan cemas dalam hatiku
kemanakah gerangan seseorang itu

Sejenak kuhentikan lajuku
kutanyakan kepada seorang tua disampingku
kemanakah bocah malang itu
namun hanya jawaban singkat yang kudapat
"malam tadi mati kelaparan"
sambil menunjuk badan yang terbujur kaku

Dunia berubah dimataku

Minggu, 18 Desember 2011

harap benak petani

apa pedulimu pada duniaku
apakah kamu tahu apa yang berharga bagiku
setiap keringat yang menetes dari keningku
apa pedulimu?

apa pedulimu pada mimpiku
harapan yang kusulam bersama merekahnya surya
dan kuakhiri dengan hadirnya senja
apa pedulimu?

dan saat semuanya kucurahkan dalam tiap bulir
rasa sayang padamu
pengharapan akan kesejahteraanmu
apakah kamu pernah berikan yang sama
paling tidak untuk sesamamu
apakah kamu rela membagi harimu
duniamu
alih-alih jiwamu

aku hanyalah sesosok gelap bercaping kusam
aku hanyalah lengan lemah yang mengolah tanah
aku hanyalah media dunia
media untuk memenuhi hasratmu
melalui tiap butir cintaku

balada kumbang dan bunga

saat kumbang memutuskan pergi
bukan berarti sang bunga sudah tak lagi berarti
karena itulah jalan
takdir bahwa dia terlahir kumbang
bukan pula bukti dia mencintai kehidupan di taman lain
karena semua takkan pernah sama
itulah yang selalu bersemayam di benak kumbang
wangi kelopakmu
lembutnya durimu
dan serbuk sari yang memabukkan darimu
semua tak sama
tak seindah dirimu
tak sebahagia kebersamaan kita

egoku

tak ada yang perlu kubuktikan
bahwa aku hebat
bahwa aku raja
bahkan bahwa aku penguasa di kadipaten ini
semua yang mengenalku mengetahui
bangsa tak kasat matapun setuju
lalu apa yang harus kutunjukkan
hartaku
kesaktianku
ataukah nasabku?
selama masih ada dirimu disisiku
aku bisa menjadi apa yang aku mau

Jumat, 16 Desember 2011

cintaku

tidakkah kamu rasakan detak jemari ini
menari pelan untuk kirimkan sepotong syair untukmu
dalam kelam dan gundah
terbujur kaku dalam dekapan kelu
tak ada yang tergores
titik dan garispun enggan bercerita
dalam kelam dan gelisah
lidah membeku dan terpaku
tak ada yang terucap
padamu.... aku cinta

Kamis, 15 Desember 2011

mutiara kecilku

Genap sudah hidupku
saat mutiara kecil yang selama ini kunantikan
kupegang, dan kujaga dengan erat
semuanya adalah cinta saat bersamanya
bahkan derai air mata yang lembut
mengucur dari sudut bulat matanya
tapi aku tahu semua harus bergerak maju
tidak bisa berhenti di momen ini
maka aku putuskan maju dan berlalu
bersama mimpiku
bersamamu
dan bersama ibumu

Senin, 12 Desember 2011

debu dan mentari

Aku hanyalah debu bagimu
takkan pernah lebih
dan dirmu takkan pernah berubah untukku
selalu jadi matahariku
hadirlah selalu bersama embun pagi
segarkan gundah gelisah yang menyelimutiku malam tadi
karena aku hanyalah debu
yang menantikan cinta sang mentari