Satrio Amandiri

tentang mimpi dan kebahagiaan dalam goresan keyboard

Rabu, 25 Januari 2012

Tugu Tani

Pagi ini sembilan nyawa melayang
delapan di jalanan sisanya menyusul di perawatan
embun pagi dan keringat menjadi saksi
kebiadaban yang menusuk nurani
saat jarum menari diangka 100
ditemani kelopak mata yang lelah
dilengkapi dengan kuasa butiran haram
sembilan harapan telah musnah
lenyap dihempas besi dan aspal
trotoar masih tempat aman
hingga semuanya berubah detik itu

Pagi itu mereka hanya ingin bergembira
menyepak bola dan melihat Monumen tercinta
kembali pulang membawa cerita untuk keluarga
namun sembilan cerita berubah menjadi duka
semua berawal dengan tabrakan
tabrakan berawal dari ketidaksadaran
ketidaksadaran berawal dari madat
madat yang mengalir semalam
mengalir kedalam darah dengan iringan asap
cukup dua butir dan segelas air
dan sembilan mimpi begitu saja berlalu

Pagi itu Tugu Tani menjadi saksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar